Tampilkan postingan dengan label Bulukumba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulukumba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

Songkok recca dan Penggunanya

Badik khas Makassar dengan Songkok Recca'. Songkok recca' sebutan bagi orang Bugis atau Songkok Guru dalam bahasa makassar, songkok khas Bugis Makassar yang terbuat dari Lontar dengan cara dipukul-pukul menjadi serat kecil untuk kemudian di anyam ini memiliki filosofi khusus bagi pemakainya. Jauh saat ini, songkok recca hanya dikenakan oleh orang-orang tertentu dengan ciri khas masing-masing tingkatan strata sosial penggunanya.


(Pict : Eka Nursalam ; ?)

Pertama, Pammiringnya dari emas murni, biasa dipakai oleh Bangsawan Maddara Takka atau anak matoa (anak matase). Kedua, Pammiringnya memakai emas 3/5 dari tinggi songkok biasa dipakai oleh Bangsawan atau Arung mengre (Arung Sipuwe). Ketiga, Pammiringnya memakai emas setengah dari tinggi songkok biasa dipakai oleh Rajeng matase atau rajeng malebbi. Keempat, Pammiringnya dengan emas 1/4 bagian dari tinggi songkok biasa dipakai oleh arung maddapi atau anak cera. Kelima, emasnya hanya pada pinggiran songkok dipakai oleh tau madeceng, tau mardeka, atau tau sama'

Topada Salamaki.


Datuk ri Tiro

Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani/Abdul Jawad dengan gelar Khatib Bungsu adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan serta Kerajaan Bima di Nusa Tenggara sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya. Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk Patimang yang bernama asli Datuk Sulaiman dan bergelar Khatib Sulung serta Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah timur nusantara pada masa itu.




(Pict : Google ; ?)



Dakwah Islam

Datuk ri Tiro bersama dua saudaranya, Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang menyebarkan agama Islam di wilayah Sulawesi Selatan dengan menyesuaikan keahlian yang mereka miliki masing-masing dengan situasi dan kondisi masyarakat yang akan mereka hadapi. Datuk ri Tiro yang ahli tasawuf melakukan syiar Islam di wilayah selatan, yaitu Tiro, Bulukumba, Bantaeng dan Tanete, yang masyarakatnya masih kuat memegang budaya sihir dan mantera-mantera. Sedangkan Datuk Patimang yang ahli tentang tauhid telah lebih dulu menyiarkan Islam di wilayah utara yaitu Kerajaan Luwu (Suppa, Soppeng, Luwu) yang masyarakatnya masih menyembah dewa-dewa. Sementara itu Datuk ri Bandang yang ahli fikih berdakwah di wilayah tengah yaitu Kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng) yang masyarakatnya senang dengan perjudian, mabuk minuman keras serta menyabung ayam. Belakangan Datuk ri Tiro dan Datuk ri Bandang juga menyiarkan Islam ke Kerajaan Bima, Nusa Tenggara.

Wafat

Setelah beberapa lama melaksanakan dakwah Islam, akhirnya Khatib Bungsu atau Datuk ri Tiro berhasil mengajak raja Karaeng Tiro (Sulawesi Selatan) serta raja Bima (Nusa Tenggara) masuk Islam. Sang pendakwah itu tidak kembali lagi ke Minangkabau sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Tiro atau sekarang Bontotiro.

Sumber :

PT Balai Pustaka, Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah nasional Indonesia, Volume 3 
www.wisatanews.com Tradisi Hanta Ua Pua, Bentuk Penghormatan Atas Rasulullah dan Ulama 
Yayasan Obor Indonesia, Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII

Anjong Dan Teba, Simbol Rumah Khas Di Bulukumba

Saat berkunjung ke Bulukumba, dan melihat rumah-rumah panggung. Kita akan melihat sebuah ukiran kayu yang ada di puncak rumah menjulang ke atas langit, mungkin kita akan bertanya-tanya itu apa.

Di Bulukumba, penggunaan Anjong dan Teba dengan ukiran khas mungkin tidak kita temukan lagi di daerah lain, Simbol rumah ini masih banyak terdapat di daerah timur Bulukumba dengan ukiran khas Naga dan Bunga-bunga.

Bentuk Vertikal dari garis belakang menjulan ke depan disebut Anjong, dan bentuk Horisontal di sebut Teba, kedua benda ini bukan hanya sebagai hiasan rumah tapi merupakan sebuah simbol dari pemilik rumah.


(Pict Anjong : Zulengka Tangallilia; 2016)

(Pict Teba : Zulengka Tangallilia; 2016)





Anjong dengan motif ukiran Naga ini memiliki arti jikalau si pemilik rumah status sosial Suami lebih tinggi dari pada Istri, sedangkan Teba dengan motif ukiran bunga-bunga memiliki arti jikalau si pemilik rumah status sosial Istri lebih tinggi dari pada Suami. Simbol Anjong dan Teba banyak kita temukan di Kecamatan Bonto Bahari.















Selain itu, kita juga akan menemukan bentuk lain di daerah Kajang dengan posisi yang sama yang biasa di sebut jangang-jangang yang biasanya menyimbolkan bahwa si pemilik rumah merupakan rumpun Ammatowa.
Saat ini, penggunaan Anjong dan Teba di Kecamatan Bonto Bahari masih terus lestari dan memperindah rumah panggung di Bulukumba yang sudah jarang kita temukan di daerah lain di Sulawesi-selatan bahkan Indonesia. Terakhir, penulis pernah melihat hal serupa yakni Anjong terdapat di Desa Amali, Kab. Bone.

Topada Salamaki.

Penulis :
Zulengka Tangallilia, Pecinta Sejarah dan Budaya Kabupaten Bulukumba, bisa di hubungi Via Email : zulengkatangallilia@gmail.com

Alasan Pinisi begitu terkenal

Ketangguhan Pinisi  dalam Misi pelayaran Pinisi Ammana Gappa ke Madagaskar pada tahun 1991 dan Pelayaran Historis Pinisi Nusantara ke Vancouver Canada untuk tampil pada Expo 1986 telah mengantarkan Perahu hasil kekayaan intelektual To Panrita Lopi di Bulukumba.

Pinisi sampai saat ini telah menjadi magnet penarik banyak peneliti Mancanegara maupun Nasional antara lain peneliti asal Inggris F. Collins yang pada tahun 1930-an memesang perahu Pinisi di Ara.

(Pict : Zulengka Tangallilia ; 2016)

Ketangguhan Pinisi menjadi sangat terkenal karena beberapa  fakto, yaitu : Pertama, Bentuk yang Indah dan anggung, dengan ciri khas dua tiang dan tujuh layar. Kedua Pinisi identik dengan tradisi yang melekat pada masyarakat pembuatnya, sebab dalam proses pembuatannya selalu disertai dengan tata cara tertentu yang bersumber dari budaya setempat. Ketiga Pengetahuan dan keahlian membuat perahu Pinisi, merupakan keahlian dan pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun tanpa bahan tertulis maupun gambar rekayasa. dan Keempat Kekuatan Perahu Pinisi sudah teruji mampu mengarungi samudera.


Kamis, 29 Agustus 2019

Apa kabar Pinisi (Bagian III)

Sebelum tercipta Pinisi (akhir abad ke-19), di Sulawesi-Selatan telah ada beberapa macam jenis perahu yang digunakan oleh penduduk pesisir untuk berbagai keperluan dan kegiatan sehari-hari. Karena tuntutan kebutuhan yang semakin berkembang, alat transportasi tersebut terus menerus mengalami perubahan (modifikasi), baek daris segi teknik pembuatannya maupun jenis dan kapsitasnya. (Muhammad Arid Saenong. 2013)

Di sulawesi selatan alat transportasi air yang mula-mula tercipta setelah penggunaan rakit ialah perahu yang terbuat dari batang kayu besar yang dikeruk dan biasa disebut perahu lesung.

Seiring dengan tuntutan kebutuhan, maka diperkirakan pada abad ke-16 barulah tercipta perahu yang lebih besar yang disusun dari kepingan-kepingan papan. (Muhammad Arif Saenong. 2013)
 
(Pict : Zulengka Tangallilia ; 2007)
Menurut Zulengka Tangallilia dari analisa kacamata awam, ini terjadi jauh sebelum masa-masa itu dimana ditemukannya situs-situs liang di pinggiran pantai tempat manusia prasejarah Bulukumba hidup di masanya, ini mendandakan jika Manusia yang bermukim ditempat tersebut telah menggunakan alat untuk melakukan aktifitasnya di laut. 

Di Desa Ara, tepatnya di Pantai Mandala ria yang sebelumnya bernama Pantai Ara terdapat situs Liang Sabboa dimana ditemukan banyak Sampah dapur seperti kerang-kerang laut dan perkakas yang setelah diuji karbon oleh Peneliti Australia jikalau alat-alat seperti kapak sudah ada sebelum Masehi (Wawancara dengan Drs Muhannis tahun 2014). 

Selain situs Liang Sabboa masih banyak situs di Bulukumba yang bisa mengungkap akan rekam-rekam masa lalu yang Bulukumba yang saat ini masih gelap dan itu membutuhkan orang-orang kompoten di bidangnya.

*****
Sumber :
(1) Muhammad Arif Saenong. 2013. Pinisi "Panduan teknologi dan Budaya". Penerbit Ombak. Yogyakarta.
(2) Wawancara dengan Drs Muhannis (Budayawan Bulukumba asal Desa Ara) tahun 2014.

Selasa, 17 Oktober 2017

Tari Akarena Tedong dari Bulukumba, Sulawesi-selatan

Tersimpulnya ikatan dua anak manusia dalam sebuah upacara Pernikahan seluruh kebudayaan di dunia terdapat suatu proses yang berbeda. Salah satunya ada di Kabupaten Bulukumba tepatnya di Ara kecamatan Bontobahari.

Bulukumba yang memiliki potensi wisata juga menyimpan potensi  budaya yang saat ini keberlangsungannya terancam. salah satu diantaranya adalah Akarena Tedong, Karena dalam bahasa lokal yang berarti Tari yang saat ditambahkan imbuhan "Pa" menjadi Pakarena  artinya sang pelaku tari itu sendiri, dan Tedong yang berarti kerbau

Akarena Tedong erupakan satu diantara tiga  rangkaian acara dalam suatu pernikahan  masyarakat Ara, pertama Akarena Tedong, kedua Akarena Siusiri, dan ketiga Akarena Salonreng.

Penggunaan istilah  Akarena Tedong (Lathief, halilintar. Nurdin Taba. 1994) kerena dalam prosesi ini erat kaitannya dengan upacara pemotongan Tedong (Kerbau). Selain itu, menurut Budayawan Muhannis juga karena pada salah satu gerak yakni bentuk jemari tangan yang menyerupai hewan laut yakni kerang yang dalam bahasa lokal disebut dengan Tedong-tedong yang dalam bahasa latin adalah Casis Cornuta yang dulunya banyak dijumpai di laut sekitar Kampung Ara.

Kali ini, Lengka hanya mencoba menguraikan Akarena Tedong. Tari Akarena Tedong merupakan tari pembuka dalam susunan acara adat pernikahan masyarakat Ara, yang dimulai sore hari hingga malam hari  usia pemotongan kerbau yang dilaksanakan saat pagi hari di rumah mempelai perempuan.

Acara Akarena Tedong berakhir sebelum waktu magrib yang kemudian dilanjutkan di rumah mempelai laki-laki dimana pendukung tari Akarena Tedong sama dengan tari di rumah mempelai perempuan yang mana para penarinya adalah Tu Lolo dalam bahasa lokal artinya gadis sebanyak enam orang dalam jumlah berpasangan.

Selesai Akarena Tedong biasanya kemudian dilanjutkan dengan upacara pemasangan Tabere Manuntung.

Tahun 2016, Lengka bersama beberapa penari dari Perguruan tinggi di Bulukumba dan Makassar mencoba menemui Anrong Akarena di Ara, Kecamatan Bontobahari. laki-laki rentah yang bernama Idrus Sarika yang biasa disapa Puang Sarika , dalam pembicaraan kala itu kekhawatiran beliau akan Akarena yang merupakan kekayaan masyarakat Ara kini kurang diminati oleh generasi muda. ini merupakan sebuah bencana menurut Lengka untuk generasi mendatang yang budayanya tenggelam satu persatu layaknya perahu ditengah samudera saat malam tanpa bintang.

Sumber :
Literatur
Lathief Halilintar, Nurdin Taba. 1994. Seni tari tradisional di Sulawesi-selatan. Jakarta.

Wawancara
Drs. Muhannis. 2016 dan, 
Idrus Sarika. 2016

Catatan :
Dalam upaya melawan lupa, Komunitas simpul merah dan Museum dan Rumah Baca Kucang Pustaka memiliki sumber informasi berupa beberapa catatan dan ketikan manual tentang Tari Pakarena yang ada di Ara tahun 60-an yang dihibahkan oleh Drs. Muhannis.



Jumat, 10 Juni 2016

Semalam di Pantai Lemo-lemo, Kabupaten Bulukumba

Gelap, hanya itu suasana yang tergambar malam itu. sesekali riuk ombak dan gerayam angin laut yang sesekali mengigilkan badan. Semalam di Lemo-lemo, Kampung tua nan gelap dan hamparan makam tak bernama.

Menghitung bintang, (dari kiri)
Penulis, Achmad Idham Algazali, Muhammad Akbar KK, Tukang Potret Achmad Khaerul
Dimulai kiriman via E-mail peta tua dan beberapa lembaran buku fotocopy dari seorang budayawan tentang tentang kerajaan dan kampung yang ada di wilayah Kabupaten Bulukumba menggerakkan kaki kami ke tempat ini (Pantai Lemo-lemo).

Dengan jelas, dalam peta yang tertera tahun 1752 tergambar sebuh benteng dan nama Lemolemo. mungkin saja, kebanyakan orang akan menganggap Kampung pinggir pantai itu hanyalah sebuah pemukiman yang biasa saja layaknya perkampungan lainnya. Namun bagi kami yang sedari dulu senang akan cerita kakek akan perjalanannya dulu dan buku-buku tua adalah sebuah tempat yang penuh dengan keunikan yang sangat menarik.

Kunjungan pertama kami dari Komunitas Simpul Merah hanya sebuah persinggahan untuk di telusuri lebih lanjut. karena sebelumnya, tempat yang acap kali kami kunjungi adalah Kampung yang Tua juga yakni Desa Ara.

Meriam dan Ranjau laut di pekarangan rumah warga,
nampak salah seorang komunitas Simpul Merah yakni Jusli Ruhaely, Minggu 22 Juni 2016.
Lain halnya dengan Desa Ara, desa yang cukup padat penduduk di sela-sela karang dan arus modernitas sudah menyentuh disetap sudut kampung ini berbanding terbalik dengan Kampung tua yang ada di Lemo-lemo.

Kampung yang jumlah penduduknya tidak lebih dari 80 orang dan sekitar 20 rumah ini pada malam hari gelap gulita dan sunyi dari hiruk pikuk suara radio, televisi, bahkan saat hari libur wisatawan lokal sangat sunyi dari laju kendaraan roda empat bahkan roda dua.

Di sekeliling kampung hanya ada rerimbung hutan yang padat akan batang pohong dan ranting-rantingnya, di bagian lantai hutan hanya ada sekian inci tanah dan setelahnya karang tajam bahkan banyak tidak terdapat tanah hanya karang tajam dan sesekali kita akan menemukan gua-gua yang beraneka raga variannya, ada Gua Horisontal bahkan Vertikal dan tidak terhitung jumlahnya di rerimbung pohon.

Malam pertama yang sangat jauh dari kesan modern, hanya ada riuk ombak dan geranyam angin laut. Sesekali kami tertawa karena bercerita akan masa depan yang begitu suram dan gadis-gadis ibu kota provinsi dan kabupaten yang sudah bertingkah di ambang batas kewajaran.

Beralaskan tikar sebelum hujan turun
Tidak kala akan riuk ombak, kelelawar pun sedemikian riuhnya berceloteh tengah malam. Mungkin saja, di atas sana di anatara ranting-ranting mereka sedang menertawakan kami yang saat itu hanya beralasakan selembar tikar dan langit menjadi atap atau barangkali mereka sedang menggoda betina lainnya dengan rayuan ala kelelawar malam.

Tetiba saja, langit dengan sejuta bintang menggantung di tubuhnya gelap seperti sudut hutan yang begitu gelap, gelap yang pekat, dalam hitungan detik mula-mula setetes terjung dari langit hingga tak terhitung berapa yang menerpa muka kami malam itu.

Tanpa menunggu basah karena air yang jatuh dari langit, terdapat sebuah rumah panggung yang mungkin saja sebuah Villa menjadi tempat bertedu kami. Saat menggelar tikar di kolong rumah panggung itu, kami tertawa lebar melihat kondisi miris kami. Saat duduk di kolong rumah panggung, jarak antara kepala kami dengan lantai papan tinggal sejengkal, jika tetiba berdiri tanpa perhitungan ataupun jongkok pelang maka relakan saja kepalahmu menjadi sasaran.

Beralaskan tikar, beratapkan lantai kayu di salah satu Villa Panktai Lemo-lemo.
Hujan begitu lebat, angin pun demikian, kelelawar hilang entah kemana. Mungkin saja mereka berhasil menggoda betinanya dan ternbang mencari ranting lain ataupun terjung di tengah rerimbung hutan mencari hewan dan serangga santapan mereka.

Tidak terasa, jam digital berbunyi manandakan pukul lima, suara azan yang acap kali bergema dari kiri kanan depan dan belakang tidak pula terdengar. kami mencoba merebahkan diri sejenak untuk berjalan menelusuri rerimbung hutan dan karang tajam.

Tak terasa, cahaya mentari telah menyinari hamparan pasir putih, puluhan orang berlari dan beberapa di antaranya mencoba mengejar ombak dan sangat mengesangkan, ternyata suasana hutan yang cukup menyeramkan akan suara serangga dan kelelawar ini menyimpang sebuah rahasia.

Rahasia itu tidak lain adalah hamparan pasir putih yang sangat panjang, jika anda pernah berkungjung di Tanjung Bira, maka panjang pantai di tempat ini dua kali panjangnya daripada di Tanjung bira.

Pantai Lemo-lemo yang menghadap langsung ke Gunung Bawakaraeng (Foto : Zulengka Tangallilia)

Pantai Lemo-lemo (Foto : Zulengka Tangallilia)

Pantai Lemo-lemo (Foto : Zulengka Tangallilia)

Seorang wisatawan berlari, Pantai Lemo-lemo (Foto : Zulengka Tangallilia)
Berjalan dari ujung satu ke ujung lainya cukup lama dan kita akan di hadiahi beberapa situs yang memang merupakan tujuan kami untuk berkungjung, di antaranya Situs Benteng Lemo-lemo, ratusan makam dengan nisan batu hitam tinggi tersebar sepanjang garis pantai dan satu persatu penginapan yang tidak tertata baik.

Salah satu Nisan di anatara makam tua yang tak terurus.
Selepas berkeliling di garis pantai Lemo-lemo, kami melanjutkan mendata dan memotret puluhan makam tua dengan berbagai nisan yang jarang kita jumpai. banyak di anatara makam-makam tua ini telah rusak dan ditumbuhi rumput ilalang dan pohong besar, di antara makam tua juga terdapat beberapa makam yang tergolong baru yang merupakan tempat pemakaman warga kampung tua lemo-lemo.

Sebuah pembatas di tengah hutan, jika buka pembatas kebun maka adalah sebuah benteng
Batas ini sangat panjang membela hutan berdiameter 1 meter dari batu karang.
Perjalanan kami lanjutkan dengan memasuki hutan, tidak jauh masuk kami menemukan beberapa Gua vertikal dan Horisontal, ada yang cukup dalam dan beberapa di antaranya adalah hanya berupa liang. Namun saat itu tidak kami lanjutkan lebih dalam karena peralatan yang tidak memadai dan rerimbung pohon yang sangat sulit kami tembus.

Bulukumba, 11 Juni 2016
Penulis : Zulengka Tangallilia

Membendung lawan di Benteng Lemo-lemo, Bulukumba

saat itu, 264 tahu yang lalu. I.M. Auber Fecit Annom telah memetakan beberapa Distrik dan kampung yang saat ini beberapa diantaranya menjadi ibu kota Kecamatan dan desa yang ada di pesisir selatan Kabupaten Bulukumba. dalam peta yang ia gambarkan terdapat ratusan tempat yang tidak asing di telinga kita.

Peta tahun 1752 Oleh I.M. Auber Feccit Annom tentang wilayah kerajaan Bone
beberapa distrik dan kampung dalam Peta yang tertera tahun 1752 ini antara lain Lemo-lemo, Tannabeero, Dennowang, Kapongkolang, Balangisang, Djana, Bampang, dan puluhan tempat lainnya.

Lemo-lemo, dalam artikel tentang Distrik yang ada di wilayah administrasi Kabupaten Bulukumba saat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata di Bulukumba.

Saat berkungjung ke tempat ini, kita akan di sugukan hamparan pasir putih yang panjangnya kira-kira 2 km dan hutan bekas perkampungan tua yang sangat eksotis dan belum terjamah karena rerimbung pohon.

Di tempat ini, Pantai lemo-lemo ternyata terdapat sebuah benteng peninggalan kerajaan Lemo-lemo di masa kejayaannya dulu, tidak semua pengunjung dapat tahu bahwa susunan batu dari batu karang yang banyak tersebar di wilayah timur bulukumba ini di susun sedemikian rupa membentuk sebuah dinding untuk menghalau lontara peluru lawan.

Sisa Benteng di Kampung tua lemo-lemo
Benteng yang terbuat dari susunan batu karang ini kondisinya sangat memperihatingkan dan nyaris saja lenyap keberadaannya dimana menurut penuturan warga kampung Lemo-lemo, dulunya banyak warga dari desa lain membawa perahu dan mengambil bagian benteng yang terbuat dari karang untuk pembangunan rumah.

Benteng yang saat ini hanya tersisa kurang dari 10 meter karangnya berserakan karena minimnya pengawasan dan kurang perhatian. misalnya saja bagian sayap kiri benteng, batu karang sebagai bahan utama berhamburan ke mana-mana karena runtuh atau karena tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Benteng ini dulunya sangat ampuh menghalau terjangan peluru lawan karena sifat bahan utama yakni karang saling bertautan sehingga kokoh.

Saat Komunitas Simpul merah datang berkunjung ke lokasi benteng, terdapat kelompok Pramuka dari salah satu SMA Kabupaten Bulukumba yang tengah melaksanakan kegiatan, hal yang sangat menarik di sini yakni salah satu di antara kami menanyakan akan benteng itu, rupanya mereka tidak tahu sama sekali dan hanya menganggap kumpulan batu karang yang di susun untuk pembangunan wisata.

Selain kerusakan benteng, salah satu hal yang sangat menarik di Sekitar Pantai lemo-lemo ini adalah adanya satu makam.

Makam yang terletak pada bagian depan Benteng Lemo-lemo.
Menurut pengakuan warga, makam ini adalah tempat peristirahatan panglima perang kerajaan lemo-lemo, saat di tanyakan namanya, warga tersebut kurang tahu siapa yang di makamkan di tempat tersebut.

Makam ini sangat unit, bentuk dan letaknya sama dengan makam muslim lainya yang umum kita jumpai, hanya saja bagian bawah makam merupakan karang keras yang menurut pengamatan kami adalah hal yang membutuhkan kerja keras untuk menggali.

Sangat miris memang, generasi muda sebagai penerus bangsa ini tidak tahu akan kekayaan yang ada di daerahnya sendiri.

Hal ini barangkali yang menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya kerusakan situs yang ada di Bulukumba karena ketidak tahuan masyarakat ataupun generasi muda akan riwayat suatu situs yang kelak mereka warisi akan sejarah perjuangan leluhur mereka.

Bulukumba, 10 Juni 2016
Penulis : Zuengka Tangallilia

Rabu, 08 Juni 2016

Ranjau Laut Soviet M-26 terdapat di Kampung Tua Lemo-lemo

Bola besi karatan yang ada di Kampung tua Lemo-lemo di duga adalah ranjau laut milik soviet, menurut penuturan warga kampung, bola bulat itu mulanya tergeletak begitu saja di Pantai Lemo-lemo yang jaraknya sekitar 200 meter dari posisi letaknya saat ini di halaman rumah salah satu warga.

Besi bulat ini mirip dengan Foto ranjau laut model M-26 milik soviet yang saat ini adalah negara Rusia yang konon dulunya sangat menakutkan saat perang dunia ke dua.

Model Ranjau laut buatan Soviet yang memiliki kemiripan dengan bola besi yang ada di Kampung Lemo-lemo.
Sumber : RBTH.Indonesia
Ranjau yang mulai di produksi tahun 1920 ini merupakan ranjau laut terberat yang pernah di gunakan oleh angkatan laut Soviet untuk melawan peperangan Nazi yang beratnya 250 kg.

Selain bola besi yang mirip ranjau laut M-26 milik angkatan laut Soviet ini, di Pantai lemo-lemo juga terdapat satu meriam tua yang telah berkarat yang di pajang diatas semen di pekarangan rumah di Kampung Lemo-lemo.

Bola besi yang saat ini termakan karat, lubang di mana-mana, dan genangan air di dalam tubuhnya ini menjadi salah satu daya tari saat berkunjung ke Pantai Lemo-lemo di Kecamatan Bonto bahari, Kabupaten Bulukumba.

Bola besi yang diduga Ranjau Laut buatan Soviet pada perang melawang Nazi
Benda yang terbuat dari besi beberapa tahun kedepan akan mengalami kerusakan termakan karat karena dibiarkan begitu saja terpapar cuaca di halaman rumah warga.

Kedepannya, diharapkan pemerintah terkait dapat melestarikan salah satu saksi bisu akan perang yang berlangsung beberapa dekade silam ini guna memberikan edukasi kedapa generasi mendatang akan kegerian akan sebuah perang.

Bulukumba, 09 Juni 2016
Penulis : Zulengka Tangallilia


Selasa, 07 Juni 2016

Meriam dan Ranjau Laut di Pantai Lemo-Lemo

Mulanya, kedua meriam dan satu buah ranjau laut di letakkan di Masjid dekat Pantai Lemo-lemo, namun karena masyarakat khawatir, maka di pindahkan ke pekarangan rumah tetua kampung, begitulah ucap pak RT yang biasa di sapa Pung Idris.

Meriam dan Ranjau laut yang masih tersisa melawan karat
Meriam yang memiliki panjang kira-kira 1,5 meter ini sudah karatan karena diterpa hujan dan panas matahari, warnanya sudah hitam karatan dan kasar, sebagian tubuhnya mengelupas karena cuaca dan air hujan memenuhi setengah moncongnya. 

di samping meriam juga terdapat sebuah bola besi yang diameternya kita-kira setengah meter dengan tonjolan besi keluar yang menyerupai babi laut dengan bulu hitamnya, namun bola besi yang kemungkinan merupakan ranjau laut yang biasa digunakan untuk menghalau kapal selam ini disetiap jengkal tubuhnya keropos bahkan berlubang. isi tubuhnya dapat kita lihat dengan kasat mata dan sama dengan sang meriam di dekatnya, air hujan memenuhi tubuhnya.

Kedua benda yang di letakan berdampingan ini dulunya terletak di Benteng Lemo-lemo, namun atas inisiatif warga maka di pindahkan ke masjid yang kemudian di pindahkan ke Halaman rumah penduduk. menurut Pak RT, meriam dulunya ada dua buah dan satu ranjau laut, satu di antara meriam itu terbuat dari bahan kuningan dan pada tahun 80-90 an dipindahkan ke salah satu rumah warga yang ada di Tanah Beru yang jaraknya sekitar 10 km dari pantai Lemo-lemo, namun saat di tanya siapa pemilik rumah tempat penyimpanan meriam itu Ia tidak menjawab tidak tahu.

Pantai lemo-lemo yang menyimpang pesona hamparan pasir putih, hutan yang alami, dan kaya akan jejak sejarah ini merupakan aset Bangsa yang bukan hanya tanggung jawab pemenrintah saja, namun tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya.

Topada Salamaki.

Bulukumba, 07 Juni 2016